TARAKAN – Para petani rumput laut di Tarakan terus menyuarakan keprihatinan mendalam terkait stagnasi harga jual komoditas andalan mereka. Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya operasional yang kian membebani perekonomian mereka.
Marwan (bukan nama sebenarnya), seorang petani rumput laut yang telah berkecimpung sejak 2018, mengungkapkan fluktuasi harga yang signifikan. Sempat mencicipi kenaikan harga hingga Rp30.000 per kilogram pada tahun 2022, harga jual rumput laut kini terpuruk di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 sejak anjlok pada 2023.
“Dulu pernah naik tahun 2022, tapi semenjak anjlok ke harga Rp8.000 itu belum pernah naik sampai sekarang. Kami tidak tahu penyebabnya,” keluhnya saat ditemui di kediamannya di RT 12 Binalatung, Sabtu (12/4/2025).
Marwan menambahkan, kenaikan harga yang terjadi pun bersifat sporadis dan minim, hanya berkisar Rp1.000 dan tidak bertahan lama. Sementara itu, biaya produksi untuk sekali musim tanam dengan rata-rata 200 bentangan sangatlah besar. Ia merinci, kebutuhan bahan bakar mencapai Rp1.800.000 untuk dua jeriken bensin, ditambah Rp100.000 untuk dua liter oli sebagai campuran.
Beban biaya lainnya meliputi pembelian pelampung dari botol bekas seharga Rp700 per botol, pelampung besar Rp65.000, dan tali sekitar Rp470.000. Jika kekurangan tenaga kerja, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan Rp100.000 per orang untuk upah harian.
Dengan hasil panen rata-rata 7 hingga 8 karung atau maksimal satu ton dalam kondisi ideal, penghasilan bersih petani seringkali minim, bahkan hanya cukup untuk menutupi biaya produksi. Tak jarang, hasil panen hanya sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa menyisakan keuntungan.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh Nurmaini (bukan nama sebenarnya), seorang pekerja pengikat rumput laut dengan pengalaman 15 tahun. Ia menceritakan penurunan upah yang signifikan. Awalnya dibayar Rp4.000–Rp5.000 per bentangan, sempat naik menjadi Rp10.000, kini upahnya kembali merosot menjadi sekitar Rp8.000.
“Penurunan harga ini membuat penghasilan menurun, meskipun kebutuhan hidup terus meningkat,” ujarnya dengan nada prihatin.
Baik Marwan maupun Nurmaini berharap adanya intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga rumput laut. Mereka menekankan pentingnya harga yang layak agar para petani dan pekerja kecil dapat menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Sudah tiga tahun harga anjlok, tapi masih belum juga ada peningkatan,” pungkas Nurmaini, menyiratkan harapan akan adanya solusi konkret dari pihak terkait.


Discussion about this post