alerta.co.id
No Result
View All Result
  • Reportase
  • Ragam
  • Kaltara
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Bulungan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Stori
  • Infografik
  • Cerita Foto
  • Video
alerta.co.id
  • Reportase
  • Ragam
  • Kaltara
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Bulungan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Stori
  • Infografik
  • Cerita Foto
  • Video
No Result
View All Result
alerta.co.id
No Result
View All Result
Home Galeri

Dua Ribu Tak Buatmu Miskin, Kawan, dan Dia Naik Mobil Pajero Sport

by Redaksi
17/01/2026
in Galeri
A A
Dua Ribu Tak Buatmu Miskin, Kawan, dan Dia Naik Mobil Pajero Sport

foto : pikiran rakyat

Saya pernah ingin menarik uang tunai dari bilik ATM di tepi jalan dekat pusat kota. Uang di kantong kosong. Masuk kamar ATM, eh, mesinnya rusak. Keluar bilik diadang jukir. “Lain kali ya, Pak,” kataku menatapnya berlalu pergi mencari tempat ATM lain. Saya tak tega sebetulnya dan bukan habbit saya. Tapi, mau bayar pakai apa saat itu?

Kehadiran jukir ini—entah mau liar atau resmi, memang kerap menjengkelkan hati. Resmi aja dongkol, apalagi liar. Apalagi nagihnya brutal. Kita paham, sebagian tugas mereka ibarat kiper yang menjaga kebocoran uang daerah, dan kita kerap berlaku sebagai striker paling ganas bernafsu ingin membobolnya, apalagi mereka sendiri juga membobol gawangnya sendiri berkali-kali.

Sesegara mungkin kita ingin menarik gas kendaraan ketika keluar dari sebuah toko dan tak mendapatinya. Soalnya, jukir ini, selain bikin kita embuskan napas “hufhh” ketika face to face, kerap juga ia menjelma jadi mahkluk gaib: tiba-tiba ada dari yang tadinya tiada. Muncul pas di dekat kendaraan saat kita ingin pergi pula. Seolah-olah jatuh dari langit seperti opening film Mr Bean.

Kita pun mulai mengoreksi nilai standar kebaikan dan keikhlasan kita, dan menyadari bahwa dua ribu rupiah untuk membayar mereka itu harus sudah mulai masuk dalam kalkulasi gerutu dan ikhlas. Dua ribu emang “kecil” namun, ketika melihat jukir kaya raya dari itu, terbitlah ketidakrelaan atau keiirian hati ini. Apalagi ia ilegal, meminta secara intimidatif. Tak hanya soal jukir belaka sebetulnya. Ada aneka rupa profesi informal yang kerap menyentil emosional kita. Terutama mereka yang pernah saya lihat, “menyulap” kaki normal mereka menjadi “pincang” lalu berakting mendulang iba membuat dua ribu tak ada artinya di hadapan mereka, kalau bisa ingin kita buatkan kaki palsu dan rumah bagi mereka saat itu juga.

Wajah realitas sosial ekonomi informal sering membawa dua potret bias: mana asli dan mana palsu. Jukir, misalnya. Jika kita menyerahkan dua ribu kepada jukir resmi ber-pelayanan prima plus amanah, puaslah hati kita. Sebaliknya, dua ribu kepada jukir liar intimidatif, tanpa ditanya dipastikan murka lah batin kita. Perkaranya, apakah nilai dua ribunya atau sikap yang kita bayar sesungguhnya? Bagaimana jika dihadapkan pilihan ini: jukir resmi, namun berprilaku kasar, atau jukir liar tapi ramah?

Ditambah kebaikan kolektif kita sebagai warga Indonesia, yang tujuh tahun beruntun (2018-2024) meraih predikat negara paling dermawan di dunia versi world giving index, seperti tak ada alasan bagi kita tidak memberi meski di rumah cuma ada sepotong roti.

Di kotaku, ada nyaris ada seratus orang adalah jukir daerah tercatat sebagai agen pencari retribusi.  Lainnya liar. Jika tahun 2024, ada 180-an ribu kendaraan bermotor roda dua, betapa menggiurkan proyeksi bisnis ini ke depan. Apalagi, penduduk yang mencapai 250 ribuan jiwa atau rata-rata tiga sampai empat orang per kepala keluarga (KK), maka diperkirakan tiap rumah memiliki dua hingga tiga sepeda motor. Bahkan jukir pun punya motor, dan harus bayar parkir pula.

Tak kurang kisah pekerja sektor-sektor ini dan informal lainnya memiliki kekayaan tersebulung, yang tak tercatat di LHKPN (laporan harta kekayaan pekerja nonformal, maaf, ini istilah saya karang sendiri) dan ketika diketahui publik membuat dunia gemuruh, antara semakin takjub, ingin mengikuti jejak mereka, atau jadi bahan refleksi diri, bahwa sesungguhnya kita inilah yang seharusnya memang harus dikasihani.

Saya sudah tak tertarik membaca mereka dari sisi hukum. Meski indikatornya jelas: jika mereka menagih memaksa, jatuhnya pemerasan, sembilan tahun bui menanti. Pun, jika mereka sendiri menipu bos mereka: penjara empat tahun menunggu dijerat pasal penggelapan. Toh, kotaku juga pernah tertipu oleh jukir binaan mereka sendiri. Jukir resmi pula.

Maka, dihadapkan fenomena jukir-jukir ini, saya lebih memilih merenungi nasib saya terhadap profesi jukir yang memukul telak telah terjadi ketimpangan sosial tinggi, bahwa pihak yang dipungut justru berasal dari kelompok ekonomi lebih rentan dibanding pihak yang memungut.

Uang dua ribu rupiah tak buatmu miskin…betul, tapi, kalo itu terjadi berkali-kali, diiringi mungut bertekanan psikis, dan uangnya tak masuk ke dompet daerahku, dan kuketahui si jukir pulang kerja mengendarai mobil Pajero Sport hasil kerjanya itu, ingin rasanya batinku teriak: buaajinggaaaan !!

Penulis:

Asri Malik

Freelance. Domisili di Tarakan

Discussion about this post

Rubrik

  • Bulungan
  • Galeri
  • Infografik
  • Kaltara
  • Nunukan
  • Ragam
  • Reportase
  • Tarakan

Laman

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

Tentang Kami

Alerta.co.id adalah sebuah media siber asal Kalimantan Utara dengan tagline “Jadi Lebih Paham” memiliki visi menyajikan informasi yang lengkap dan diharapkan lebih jelas serta mudah dipahami.

© 2024 PT Alerta Cipta Kreatif (www.alerta.co.id).

No Result
View All Result
  • Reportase
  • Ragam
  • Kaltara
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Bulungan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Stori
  • Infografik
  • Cerita Foto
  • Video

© 2024 PT Alerta Cipta Kreatif (www.alerta.co.id).