Di ujung pedalaman Kalimantan Utara, berdiri sebuah gunung yang nyaris jarang dijejaki manusia. Warga sekitar menyebutnya Gunung Kundas. Berdiri kokoh di atas 1.212 meter di atas permukaan laut (mdpl), diselimuti hutan hujan tropis tua, sungai-sungai liar, dan tebing batu yang belum banyak dijamah. Di peta, Kundas hanya tampak sebagai kontur. Di lapangan, ia adalah benteng alam yang sunyi dan keras.
Selama hampir 1 Minggu, delapan pendaki dari Kota Tarakan menembus benteng itu. Persiapan yang memakan waktu berbulan-bulan. Mereka tidak datang sebagai petualang nekat, tetapi sebagai sebuah tim ekspedisi yang bekerja dengan disiplin melakukan survei jalur, menghimpun informasi dari warga, menyusun rute, menyiapkan logistik, mengurus perizinan, hingga menguji fisik dan mental. Di tengah keterbatasan data resmi tentang Gunung Kundas, semua keputusan harus diambil dengan kehati-hatian.
Tim ini dipimpin oleh Ali Rahman seorang adventurir, dengan Anas January sebagai sekretaris. Enam pendaki lain masing-masing: Rizky Putra Kurnia, Antonius, Uwais Al Qarani, Wahid, Rikianus, dan Muhammad Ilham. Menjadi bagian dari satu kesatuan yang akan berbagi beban, risiko, dan harapan yang sama.
Perjalanan dimulai Sabtu, 20 Desember 2025. Dari Tarakan, mereka menyeberang ke Tanjung Selor, lalu melanjutkan perjalanan darat menggunakan pikap menuju pintu rimba. Sore hari, pukul 14.10 WITA, mereka tiba di sebuah pondok warga, titik terakhir peradaban sebelum hutan Kundas mengambil alih. Dari sini, jalan bukan lagi aspal melainkan tanah, akar, dan sungai.
Hari pertama pendakian, Minggu 21 Desember, tim mulai menembus jalur logging yang telah lama ditinggalkan. Pakis-pakis raksasa dan vegetasi hutan sekunder menutup bekas jejak alat berat. Dari Pos 1 ke Pos 2, hingga akhirnya camp 1 dicapai sore hari setelah menempuh 6,58 kilometer. Malam di Kundas turun cepat, sunyi, dan basah.
Hari kedua, jalur semakin jauh dari jejak manusia. Tim harus menyeberangi sungai besar—salah satu ciri khas kawasan Kundas yang berada di bentang hulu-hulu sungai Kalimantan Utara. Di wilayah seperti ini, hujan di hulu bisa berarti bahaya di hilir. Menjelang sore, camp 2 dicapai setelah perjalanan 4,20 kilometer yang menguras tenaga.
Hari ketiga membawa tim masuk lebih dalam ke hutan primer. Kanopi rapat menahan cahaya, dan jalur logging semakin terputus-putus. Dari Pos 4 hingga Pos 5, mereka melangkah di antara pohon-pohon tua yang kemungkinan telah berdiri jauh sebelum Indonesia ada. Camp 3 dicapai pukul 16.57 Wita.

Hari keempat adalah awal dari medan yang sesungguhnya. “Beban logistik dikurangi, sebagian ditinggalkan di camp 3,” tutur Ali Rahman. Jalur berubah menjadi tanjakan curam, bebatuan licin, dan lorong hutan rapat. Jarak yang ditempuh hanya 1,85 kilometer, tetapi membutuhkan waktu seharian penuh. Camp 4 berdiri di dekat Pos 7, tepat di bawah benteng terakhir menuju puncak.
Tanggal 25 Desember 2025 menjadi hari penentuan. Tanpa tenda dan tanpa logistik besar, tim berangkat pukul 07.30 Wita. Yang mereka bawa hanya tali, webbing, alat panjat, dan perlengkapan pribadi—cukup untuk naik dan cukup untuk kembali, jika alam mengizinkan. Jalur terakhir adalah kombinasi hutan lebat dan tebing batu curam, tipikal punggungan Kundas yang terangkat dari dasar hutan.
Tepat pukul 16.00 Wita, delapan orang itu berdiri di puncak Gunung Kundas. Di ketinggian 1.212 mdpl, tidak ada papan nama, tidak ada bangunan, hanya hamparan hutan Kalimantan yang membentang tanpa batas. Mereka tiba lengkap, sehat, dan utuh. Sebuah capaian yang jarang terjadi pada gunung yang minim data dan belum menjadi tujuan wisata resmi.

Ekspedisi ini bukan sekadar pencapaian fisik. Ia membuka kembali peta tentang Gunung Kundas sebagai salah satu benteng terakhir hutan pedalaman Kalimantan Utara, wilayah yang menyimpan keanekaragaman hayati, sumber air, dan lanskap yang masih perawan. Di tangan pendaki yang disiplin dan bertanggung jawab, Kundas bukan hanya puncak untuk ditaklukkan, tetapi warisan alam yang harus dijaga. (***)


Discussion about this post