TARAKAN – Masuknya merek-merek besar ke Grand Tarakan Mal dinilai mendorong pertumbuhan sektor perdagangan dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Namun, kehadiran brand nasional ini juga dinilai berpotensi menekan pelaku usaha lokal.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan, Margiyono, menyebut tantangan utama adalah jebakan sebaran penduduk (trap population) di Kaltara. “Sebagian besar dari 700 ribu penduduk tinggal jauh dari pusat kota. Ini membuat biaya distribusi tinggi dan pasar kota jadi dangkal,” ujarnya, Kamis (10/4).
Ia menilai fenomena pasar perkotaan yang dangkal telah terlihat sejak satu dekade lalu, saat toko-toko besar lokal mulai gulung tikar dan digantikan pusat belanja modern seperti Ramayana.
“Persaingan makin tinggi, sementara konsumen terbatas. Ini membuat usaha kecil kian tertekan,” jelasnya.
Margiyono mengingatkan perlunya strategi agar revitalisasi pusat perbelanjaan tidak mematikan bisnis lokal yang sudah lebih dulu eksis. (af)


Discussion about this post